COMPUTER BASED INFORMATION SYSTEM

Stair & Reynolds (2014) defined that computer based information system is a single set of hardware, software, database, telecommunications, people, and procedures that are configured to collect, manipulate, store, and process data into information.

Menurut Goel (2010) komponen CBIS terdiri dari :

1. Hardware

Perangkat komputer seperti keyboard, monitor, processor, dan printer, digunakan untuk menampilkan input, proses, dan aktivitas output.

2.Software

Program komputer yang memerintahkan operasi komputer.

3.Database

Sekumpulan koleksi data yang terdiri dari dua atau lebih data yang saling berhubungan.

4.People

Yang bekerja dengan computer based information system. Orang adalah elemen yang paling penting dalam computer based information system.

5.Procedures

Strategi, kebijakan, metode, dan aturan untuk menggunakan computer based information system.

6.Telecommunication, network, and internet

Telecommunication dan network digunakan untuk menghubungkan komputer dan perangkat komputer di gedung, kota, daerah, atau sebrang dunia untuk memungkinkan terjadinya komunikasi elektronik. Internet adalah jaringan komputer terbesar di dunia, yang merupakan interkoneksi jaringan.

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

Wahyono & Pujiatmoko (2008) berpendapat bahwa sistem Informasi akuntansi adalah kumpulan dari sumber daya, baik manusia, peralatan, dan teknologi yang dirancang dan digunakan untuk mengubah data-data ekonomi ke dalam informasi yang bermanfaat bagi penggunanya.

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Sistem informasi manajemen menurut McLeod & Schell (2008) adalah suatu sistem berbasis komputer yang membuat informasi tersedia bagi para pengguna yang memiliki kebutuhan serupa. Informasi yang diberikan sistem informasi manajemen menjelaskan salah satu sistem utamanya dilihat dari apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi, dan apa yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN

Menurut Bonczek, dkk (dalam Nofriansyah, 2014) sistem pendukung keputusan adalah sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi, sistem bahasa (mekanisme untuk memberikan komunikasi antar pengguna dan komponen sistem pendukung keputusan lain), sistem pengetahuan (respositori pengetahuan domain maslaah yang ada pada sistem pendukung keputusan atau sebagai data atau sebagai prosedur), dan sistem pemrosesan maslaah (hubungan antara dua komponen lainnya, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah umum yang diperlukan untuk pengambilan keputusan).

OTOMATISASI KANTOR

Otomatisasi kantor menurut McLeod & Schell (2008) adalah penerapan otomatisasi, seperti teknologi komputer, pada pekerjaan kantor seperti email, penanggalan elektronik, konferensi video, dan desktop publishing. Otomatisasi kantor meliputi seluruh sistem elektronik formal maupun informal yang terutama berhubungan dengan komunikasi informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan.

SISTEM PAKAR

Menurut Kusrini (2008) sistem pakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Pakar yang dimaksud disini adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang awam. Sistem pakar memecahkan masalah yang biasnaya hanya bisa dipecahkan oleh seorang pakar, dipandang berhasil ketika mampu mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh pakar aslinya baik dari sisi proses pengambilan keputusannya maupun hasil keputusan yang diperoleh. Sistem pakar memiliki 2 komponen utama yaitu basis pengetahuan dan mesin inferensi. Basis pengetahuan merupakan tempat penyimpanan pengetahuan dalam memori komputer, dimana pengetahuan ini diambil dari pengetahuan pakar. Sedangkan mesin inferensi merupakan otak dari aplikasi sistem pakar, yaitu bagian yang menuntun pengguna untuk memasukkan fakta sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Mesin referensi ini melakukan tugasnya berdasarkan para pengetahuan yang ada dalam basis pengetahuan.

Referensi :

Goel, A. (2010). Computer fundamentals. India : Pearson

Kusrini. (2008). Aplikasi sistem pakar menentukan factor kepastian pengguna dengan metode kuantifikasi pertanyaan.  Yogyakarta : ANDI

Nofriansyah, D. (2014). Konsep data mining vs sistem pendukung keputusan. Sleman : Deepublish

Schell, G. P., & McLeod, R. (2008). Sistem informasi manajemen edisi 10. Jakarta : Penerbit Salemba Empat

Stair, R. M., & Reynolds, G. W. (2014). Principle of information systems twelfth edition. Boston : Cengage Learning

Wahyono, T., & Pujiatmoko, L. (2008). Pengembangan aplikasi akuntansi berbasis microsoft visual basic.net. Jakarta : PT Elex Media Komputindo

Advertisements

Sistem Informasi Psikologi

1. PENGERTIAN SISTEM

Menurut Gaol (2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Selain itu, menurut Jogiyanto (2005) sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.

Sedangkan menurut Poerwadarminta (2003) sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang berupa alat dan lain sebagainya, yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.

Berdasarkan pengertian beberapa tokoh tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang menyatu secara kompleks dan rapi untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan tertentu.

2. PENGERTIAN INFORMASI

Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya, yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang berguna untuk para pengambil keputusan.

Menurut Alamsyah (2005) informasi adalah data yang telah diolah dengan cara tertentu sesuai dengan bentuk yang diperlukan.

Selain itu, menurut Bodnar & Hopwood (2000) informasi merupakan data yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat dan benar.

Begitu pula menurut Sutabri (2012) informasi adalah data yang diolah dan diinterpretasikan untuk mengambil sebuah keputusan.

Berdasarkan pengertian menurut tokoh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa informasi adalah hasil pengolahan data yang diolah dengan cara tertentu lalu diinterpretasikan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.

3. PENGERTIAN PSIKOLOGI

Menurut Muhibbinsyah (2001) psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan lain sebagainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.

Clifford T. Morgan (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.

Sedangkan Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku terbuka dan tertutup manusia baik secara individu maupun kelompok.

4. SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

            Berdasarkan pengertian istilah-istilah diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang dimaksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.

Sumber :

Alamsyah, Z. (2005). Manajemen sistem informasi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Bodnar, G. H., & Hopwood, W. S. (2000). Sistem informasi akutansi, terjemahan Amir Abadi Jusuf, Rudi M. Tambunan. Jakarta : Salemba Empat

Gaol, J.L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta : PT Gramedia

Jogiyanto. (2005). Analisis dan desain sistem informasi.Yogyakarta : Penerbit Andi

Muhibbinsyah. (2001). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Poerwadarminta, W.J.S. (2003). Kamus umum bahasa indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Sarwono, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta : Rajawali Pers

Sutabri, T. (2012). Analisis sistem informasi. Yogyakarta : Penerbit Andi

Terapi Kelompok

  • Konsep Terapi Kelompok

Terapi Kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal. Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat dilakukan pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku kekerasan atau agresif dan amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu, dapat mengobati klien dalam jumlah banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah secara kelompok, menggali gaya berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam memecahkan masalah, dan belajar peran di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini juga terdapat kekurangan yaitu : kehidupan pribadi klien tidak terlindungi, klien kesulitan mengungkapkan masalahnya, terapis harus dalam jumlah banyak. Dengan sharing pengalaman pada klien dengan isolasi sosial diharapkan klien mampu membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga keterampilan hubungan sosial dapat ditingkatkan untuk diterapkan sehari-hari.

  • Munculnya Gangguan

Terapi kelompok digunakan apabila pasien yang mengalami karakteristik gangguan seperti kebingungan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, kekerasan, atau menarik diri dari lingkungan social yang sudah tidak dapat ditangani lagi oleh terapi yang bersifat individual.

  • Jenis dan Tujuan Terapi Kelompok menurut Rawlins, Wiliams dan Beck (1993) :
  1. Kelompok terapeutik

Bertujuan mencegah masalah kesehatan, mendidik, mengembangkan potensi, meningkatkan kualitas kelompok dengan angota saling bantu dalam menyelesaikan masalah.

  1. Terapi kelompok

Membuat sadar diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan membuat perubahan.

  1. Terapi aktivitas kelompok

Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok yang dilakukan secara bertahap. Selain itu, dapat juga berupa melakukan hal yang menjadi hobinya seperti menyanyi, saat melakukan hobi, terapis mengobservasi reaksi pasien berupa ekspresi perasaan secara nonverbal.

Secara umum, dapat kita simpulkan bahwa tujuan dari terapi kelompok adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal, membagi emosi atau perasaan yang dimiliki pasien dan agar pasien mandiri.

  • Peran Terapis

Terapis membantu, mendorong pasien secara aktif agar mencapai tujuan-tujuan dari terapi kelompok

  • Teknik-teknik Terapi

Berikut sejumlah teknik yang dapat digunakan ketika melaksanakan terapi kelompok :

  1. Teknik yang melibatkan para anggota
  2. Teknik yang melibatkan pemimpin
  3. Menggunakan babak-babak terapeutik
  4. Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota
  5. Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung
  6. Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi

Sumber :

https://www.academia.edu/8815830/PROPOSAL_TERAPI_AKTIVITAS_KELOMPOK

Rawlins, T.R.P., Williams, S.R., Beck, C.M. (1993). Mental Health Psychiatric Nursing a Holistic Life Cycle Approach. St. Louis : Mosby Year Book.

Terapi Analisis Transaksional

Terapi analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne yang merupakan seorang ahli di bidang psikologi dari kelompok humanism. Ia mulai mengembangkan analisis transaksional ini ketika bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat diminta membuka program terapi kelompok bagi para serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2. Terapi ini sangat popular dan digunakan hampir di semua bidang ilmu perilaku dan menjadi teori komunikasi antarpribadi yang mendasar. Kata transaksi mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Yang ditukar adalah pesan-pesan verbal dan nonverbal. Teknik ini dapat digunakan dalam terapi individual maupun kelompok. Terapi berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat pasien dan menekankan kemampuannya untuk membuat putusan baru. Menekankan aspek-aspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi pada peningkatan kesadaran sehingga akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya.

 

Asumsi

Orang-orang bisa belajar mempercayai diri sendiri berfikir dan memustuskan untuk diri sendiri dan mengungkapkan perasaan-perasaannya. Pada dasarnya, manusia memiliki keinginan untuk memperoleh sentuhan. Yang menjadi kepribadian seseorang adalah bagaimana individu memperoleh sentuhan melalui transaksi/pertukaran. Kepribadian seseorang terbentuk dari hidupnya sejak usia muda.

 

Tujuan Terapi

Mengkaji secara mendalam proses transaksi yaitu siapa yang terlibat dan pesan apa yang dipertukarkan.

Dalam diri setiap manusia, seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego.

Sikap dasar ego yang mengacu pada

  • sikap orangtua (Parent= P. exteropsychic);
  • sikap orang dewasa (Adult=A. neopsychic);
  • dan ego anak (Child = C, arheopsychic).

Ketiga sikap tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua). Sikap orangtua yang diwakili dalam perilaku dapat terlihat dan terdengar dari tindakan maupun tutur kata ataupun ucapan-ucapan­nya. Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP). Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, me­larang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP). Setiap orang juga menurut Berne memiliki sikap orang dewasa. Sikap orang dewasa umumnya pragmatis dan realitas. Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber­sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya

Berne mengajukan tiga jenis transaksi antarpribadi yaitu:

  • Transaksi komplementer

Jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena ter­jadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi tran­saksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

  • Transaksi silang

Terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah­pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

  • Transaksi ter­sembunyi

Jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar­pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter­sembunyi. Transaksi tersembunyi 1 segi (angular) yaitu jika terjadi 3 sikap dasar sedangkan yang lainnya di­sembunyikan. Kalau yang terjadi ada 4 sikap dasar dan yang disembunyikan 2 sikap dasar disebut dengan dupleks.

Berne juga mengajukan rekomendasinya untuk posisi dasar seseorang jika berkomunikasi antarpribadi secara efektif dengan orang lain.

Ada empat posisi yaitu :

  • Saya OK, kamu OK (I’m OK., you’re OK)
  • Saya OK, kamu tidak OK (I’m OK, you’re not OK)
  • Saya tidak OK, kamu OK (I’m not OK, yo/ire OK)
  • Saya tidak OK, kamu tidak OK (I’m not OK, you’re not OK).

Sumber :

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Sugiyanto,%20M.Pd./14.%20Bahan%20Ajar%2010%20konseling%20eric%20berne.PDF

http://www.academia.edu/7216556/Konseling_Analisis_Transaksional

Logoterapi

Viktor_Frankl2

Tokoh logoterapi adalah Viktor Emil Frankl. Ia menekankan pentingnya kemauan akan arti. manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri kemudian manusia harus mencoba untuk memenuhinya. Menurut Frank, kehidupan mempunyai makna dan harus dijalani. Prinsip utama dari logoterapi ini adalah mencari makna dalam hidup. Sedangkan konsep dasar logoterapi adalah kebebasan, berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup. Mungkin kita bingung dengan kata logoterapi. Kata logo berasal dari bahasa Yunani yaitu lohos yang berarti makna dan juga rohani. sedangkan terapi berasal dari bahasa inggris therapy yang memiliki arti penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit. Jadi dapat disimpulkan bahwa logoterapi adalah penggunaan teknik-teknik menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup.

Menurut Frankl yang paling dicari dan diinginkan manusia dalam hidupya adalah makna yang bisa didapat melalui pengalaman hidupnya di masa lalu maupun masa sekarang. Baik pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan

Tujuan logoterapi

Logoterapi bertujuan agar pasien dapat menemukan makna hidup dari kehidupannya sehingga bisa terbebas dari masalah-masalah. Secara rinci, tujuan logoterapi adalah sebagai berikut :

  1. Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang ada pada setiap orang tanpa dipengaruhi ras, keyakinan, dan agama.
  2. Menyadari sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat, diabaikan, dan terlupakan.
  3. Memanfaatkan daya tersebut untuk bangkit dari penderitaan untuk mampu menemukan makna dan menghadapi berbagai rintangan di kehidupan setelahnya.

Peran terapis

Terapis harus mampu mengalami secara subjektif persepsi tentang dunianya. Dia juga harus aktif dalam proses terapeutik untuk memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa dan kecemasan-kecemasan. Terapis terlibat dalam pembukaan pintu diri sendiri maksudnya adalah terapis mampu melepaskan pemikiran, masalah yang membuat pasien merasa tidak bebas secara psikologis. Dengan begitu, pasien akan lebih sadar tentang siapa dirinya dan apa yang harus dia lakukan di masa depannya.

Pengertian dan konsep logoterapi

Kata “Logos” berasal dari bahasa Yunani berarti makna/meaning. Logoterapi beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life). Kebermaknaan hidup dapat diartikan sebagai kualitas penghayatan individu terhadap seberapa besar dirinya dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi serta kapasitas yang dimilikinya dan terhadap seberapa jauh dirinya telah mencapai tujuan-tujuan hidupnya dalam memberi makna kepada kehidupannya.

Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai kesatuan raga, jiwa, dan rohani yang tak terpisahkan. Selain itu, logoterapi memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani seperti hasrat untuk hidup bermakna, hati nurani, kreativitas, rasa humor dan memanfaatkan kualitas itu dalam bidang pendidikan, terapi dan pengembangan kesehatan mental.

Inti ajaran logoterapi :

  • HIdup itu bermakna dalam kondisi apapun sekalipun dalam kesedihan.
  • Manusia memiliki kehendak hidup bermakna yang menjadi motivasi utama dalam menjadi manusia dan tercipta rasa bahagia bila telah memenuhinya.
  • Kita memiliki kebebasan untuk menemukan makna hidup kita.

Konsep utama yang menjadi dasar filosofis untuk meraih kebermaknaan hidup ada 3, yaitu kebebasan berkehendak (freedom of will), keinginan akan makna (will to meaning) dan makna hidup (meaning of life). Ketiga konsep tersebut saling mengikat datu sama lainnya sebagai suatu rangkaian mendasar.

Sumber makna hidup

  • Nilai – nilai kreatif/daya cipta

Diwujudkan dalam aktivitas kreatif dan produktif. Makanya lebih terletak pada sikap dan cara kerja yang melibatkan pribadi (dedikasi, cinta kerja, dan kesungguhan) pada pekerjaannya. Individu yang menghayati makna dari karyanya akan menghasilkan karya dengan kualitas terbaik sekaligus memberikan makna.

  • Nilai penghayatan

Memahami, menghayati, meyakini berbagai nilai yang ada dalam kehidupan seperti nilai kebenaran, keindahan, kasih saying, kebajikan dan keimanan.

  • Nilai bersikap

Mengambil sikap yang tepat terhada kondisi-kondisi yang tidak dapat diubah atau peristiwa-peristiwa tragis yang telah terjadi dan tidak dapat dihindari lagi. Yang dapat diubah dalam hal ini adalah sikap, bukan peristiwa-peristiwa tragisnya. Dalam mengabil sikap yang teapt, beban tragis itu berkurang bahkan bisa menimbulkan makna yang berarti atau menjadi hikmah.

  • Akibat kegagalan pencapaian kebermaknaan hidup

Salah satu sndrom yang muncul pada masyarakat modern adalah sindrom ketidakbermaknaan. Tahap awal adalah frustasi eksistensial/kehampaan eksistensial yaitu sebuah fenomena umum yang berkaitan dengan kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna. Frustasi eksistensial adalah suatu penderitaan batin yang berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dan mengatasi masalah personal secara efisien.

Tahap keduanya adalah neurosis noogenik yaitu sebuah manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang dapat berupa tampilan simtomatik neurosis psikogenik seperti depresi, hiperseksualitas, alkoholisme, dan tindak kejahatan yang lainnya.

Tahap-tahap terapi :

Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:
1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. pada tahap ini, terapis menciptakan suasana yang nyaman sambil melakukan pembinaan rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan.
2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah.Terapis membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi pasien. Dalam logoterapi, pasien sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah sebagai kenyataan.
3. Tahap pembahasan bersama. Terapis dan pasien bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup meskipun hal yang menyedihkan.
4. Tahap evaluasi dan penyimpulan. Pemberian interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku pasien. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

Teknik-teknik

  • Paradoxial Intention

Teknik ini memanfaatkan kemampuan insani dalam mengambil jarak dan kemampuan mengambil sikap terhadap keadaan diri sendiri dan lingkungannya. Selian itu, teknik ini memanfaatkan rasa humor. Pasien diminta menyadai pola keluhannya, megambil jarak pada keluhannya itu dan menanggapi sendiri secara humoris. Teknik ini berusaha mengubah sikap takut menjadi akrab dengan pendekatan humor.

  • Dereflection

Teknik ini memanfaatkan kemampuan transendensi diri ini seseorang berupaya untuk keluar dan membebaskan diri dari kondisinyakeluhannya. Ia lebih mengeluarkan perhatiannya pada hal yang positif, bermanfaat dan bermakna bagi dirinya lalu merealisasikannya.  Teknik ini berusaha mengubah sikap yang terlalu memperhatikan diri sendiri menjadi melakukan komitmen untuk melakukan sesuatu yang penting bagi dirinya.

  • Medical Ministry (Bimbingan rohani)

Roh manusia akan tetap sehat selama ia tetap sadar akan tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang dimaksud adalah tanggung jawab merealisasikan nilai-nila, termasuk nilai – nilai yang ditemu individu. Melalui teknik bimbingan rohani, pasien yang menderita didorong kea rah sikap yang positif terhadap penderitaannya sehingga ia bisa menemukan makna hidupnya dari penderitaan tersebut. Misalnya pasien meninjau masalahnya dari segi seni, agama, dan sebagainya.

Metode-metode menemukan hidup

  • Pemahaman diri
  • Bertindak positif
  • Pengakraban hubungan
  • Pendalaman trinilai
  • Ibadah

Sumber :

Bastaman, H. D. (1996). Meraih hidup bermakna. Jakarta : Paramadina

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/195901101984032-EUIS_FARIDA/makalah_logoterapi_bk_keluarga.pdf

http://wardalisa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/26405/Materi+10+-+TeoriKepribadianEmilFrankl.pdf

Koeswara, E. (1992). Logoterapi psikoterapi Victor E. Frankl. Yogyakarta : Kanisius

Terapi Person Centered

Terapi ini adalah terapi yang berpusat pada pribadi/pasien atau terapi nondirektif. Nondirektif artinya adalah pasien sendiri yang memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis hanya memantulkan  Tokoh dalam terapi ini yaitu Carl Roger. Awalnya digunakan pada tahun 1942. Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Gangguan psikologis terjadi karena orang lain menghambat individu untuk mencapai aktualisasi diri.

Konsep utamanya adalah pada hakekatnya manusia mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruksif, realistic, progresif, dapat dipercayai dan secara kodrat alamiah memiliki potensi untuk berkembang. Aspek-aspek negative yang terjadi pada seseorang seperti irrasional, anti sosial, egoistis, kejam, distruktif, kurang matang dan regresif disebabkan karena kehidupannya tidak selaras dengan kodrat alamiahnya atau dengan kata lain konsep diri sebenarnya tidak selaras dengan konsep diri idealnya.

Bila individu sulit menerima perasan dan tingkah laku semasa kecil, kemungkinan besar mereka tidak mengakui bagian diri yang tidak disenanginya. Untuk dapat diakui orang lain, biasanya kita akan menggunakan topeng, oleh karena itu kit jadi belajar “untuk dilihat dan bukan untuk didengar”. Karena hal itu, kita menjadi tuli bahkan tidak bisa menerima suara-suara yang sebenarnya berasal dari diri kita sendiri. Jika hal ini berjalan terus menerus, maka kita perlahan-lahan akan mengembangkan konsep diri yang menyimpang yaitu mempertahankan pandangan bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita yang dapat mengakibatkan kita menjadi orang yang tidak mampu menyesuaikan diri, tidak bahagia, dan bingung mengenai diri kita siapa dan apa.

Terapi client centered ini membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sebenarnya dengan menciptakan penerimaan diri yang dapat diwujudkan dalam hubungan terapeutik. Terapis tidak boleh memaksakan kehendak atau tujuan tujuan yang ia miliki terhadap pasien. Terapis memantulkan perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantu pasien berhubungan dengan perasaan yang lebih mendalam serta bagian dari dirinya yang tidak akui/diterima masyarakat. Dengan kata lain, terapis menguraikan kata-kata yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

Metode Terapi ;

6 Syarat dalam proses terapi yang harus dipenuhi terapis :

  1. Terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri
  2. Terapis mengakui bahwa pasien memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya sendiri untuk mengarah pada kematangan dan independensi
  3. Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang ia inginkan
  4. Membatasi tingkah laku (misalnya psien mengungkapkan keinginannya untuk memperpanjang pertemuan melampaui batas waktu yang disetujui, tetapi terapis tetap mempertahankan jadwal semula)
  5. Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman terhadap apa yang diungkapkan pasien
  6. Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberi penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan kembali.

Ciri Ciri Terapi :

  1. Perhatian diarahkan pada pribadi bukan pada masalah. Tujuannya bukan untuk pemecaha masalah tetapi membuat individu itu tumbuh untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri baik masalah sekarang atau yang akan datang dengan cara yang tepat.
  2. Penekanan lebih kepada faktor emosi daripada intelektual karena perbuatan lebih banyak dipengaruhi emosi daripada pikiran.
  3. Memberi tekanan yang lebih besar pada keadaan yang dialami sekarang bukan di masa lalu karena pola emosi sekarang sama saja dengan pola emosi yang lalu.
  4. Penekanan pada hubungan terapeutik. Pengalaman tumbuh dari hubungan terapeutik itu sendiri sehingga individu belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan, dan bisa berhubungan dengan orang lain secara lebih dewasa.

Mengenai hubungan terapeutik, ada tiga hal pegangan singkat, yaitu :

  1. Tahap pertama : eksplorasi diri. Orang lebih berani memreriksa diri sendiri tentang keberadaannya dalam kehidupan ini.
  2. Tahap kedua : orang mulai memahami hubungan antara keberadaannya dan kemana arah kehidupannya.
  3. Tahap ketiga : melakukan tindakan yang terarah dan tujuan yang jelas.

Langkah-langkah terapi nondirective :

  1. Pasien datang sendiri kepada terapis secara sukarela.
  2. Merumuskan situasi bantuan. Pasien disadarkan bahwa terapis tidak memiliki awaban, tetapi melalui terapi ini pasien akan memperoleh sesuatu untuk memecahkan masalahnya sendiri.
  3. Mendorong pasien untuk mau berbuat mengungkapkan perasaan yang dirasakan sangat bebas dan obyektif. Terapis meningkatkan keberanian pasien dalam mengungkapkan perasaannya.
  4. Terapis berusaha dapat menerima dan menjernihkan perasaan pasien yang bersifat negatif.
  5. Apabila perasaan-perasaan negatif telah terungkapkan sepenuhnya maka secara psikologis bebannya akan berkurang.
  6. Terapis berusaha menerima perasaan positif pada pasien. Perasaan positif ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang “wah” pada diri pasien, melainkan merupakan seuatu hal yang wajar ada pada seseorang sehingga pasien dapat belajar/menyadari dirinya sendiri.
  7. Pemahaman, pengenalan, dan penerimaan mengenai dirinya sendiri.
  8. Setelah memiliki pemahaman tentang masalahnya dan menerimanya, mulailah membuat suatu keputusan untuk langkah
  9. Mulai melakukan tindakan-tindakan yang positif.
  10. Perkembangan lebih lanjut tentang wawasan pasien.
  11. Tindakan positif klien meningkat. Pasien lebih percaya diri dan bisa membuat keputusan sendiri. Tahap ini merupakan puncak hubungan antara terapis dan pasien.
  12. Mengurangi ketergantungan pasien atas terapis dan memberitahukan secara bijaksana bahwa proses terapi perlu diakhiri.

Sumber :

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta: Kanisius

Terapi Humanistik Eksistensial

Terapi eksistensial-humanistik adalah terapi yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pada pemahaman filosofis tentang menjadi manusia yang utuh dan apa makna menjadi manusia. Terapi ini memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar juga pada apa yang dialami pasien pada masa masa sekarang bukan pada masa lampau.

501091-System__Resources__Image-547132Salah satu tokoh yang berkaitan dengan terapi ini adalah Abraham Maslow.Maslow menyebutnya sebagai teori holistic-dinamis karena teori ini menganggap bahwa keseluruhan dari seseorang termotivasi oleh satu atau lebih kebutuhan dan orang memiliki potensi untuk tumbuh menuju kesehatan psikologis yaitu aktualisasi diri. Untuk memnuhi aktualisasi diri, ada beberapa kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan akan lapar, keamanan, cinta, dan harga diri. Setelah itu semua terpenuhi, maka seseorang bisa mencapai aktualisasi diri.

Berikut adalah hierarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow :

maslow

Menurut Maslow, tujuan terapi ini adalah agar klien dapat memiliki nilai-nilai kehidupan seperti menghargai kejujuran, keadilan, kebaikan, kesederhanaan, dll. Maka dari itu, klien harus terbebas dari ketergantungan mereka terhadap orang lain sehingga keinginan alami mereka dapat aktif. Sebagian besar orang yang mencari terapi telah memenuhi dua kebutuhan di level rendah, tetapi sulit memnuhi kebutuhan cinta dan keberadaan. Oleh karena itu, psikoterapi sebagian besarnya merupakan proses interpersonal yang hangat dan penuh kasih antara klien dan terapis. Setelah itu terpenuhi, maka klien dapat memenuhi rasa percaya diri dan penghargaan diri. Oleh karena itu hubungan interpersonal antara klien dan terapis merupakan obat psikologis yang terbaik.

Sedangkan tujuan menurut Gerald Corey yaitu :

  1. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik.
  2. Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
  3. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri.

Teknik terapi ini menurut Akhmad Sudrajat yaitu teknik client centered therapy sebagaimana dikembangkan oleh Carl Rogers yaitu meliputi penerimaan, rasa hormat, pemahaman, menentramkan hati, pertanyaan terbatas, reflection dari perasaan, dan memberi dorongan.

Peran dan fungsi terapis adalah sebagai berikut :

  1. Memahami dunia klien dan membantu klien untuk berfikir dan mengambil keputusan atas pilihannya yang sesuai dengan keadaan sekarang.
  2. Mengembangkan kesadaran, keinsafan tentang keberadaannya sekarang agar klien memahami dirinya bahwa manusia memiliki keputusan diri sendiri.
  3. Sebagai fasilitator memberi dorongan dan motivasi agar klien mampu memahami dirinya dan bertanggung jawab menghadapi reality.
  4. Membentuk kesempatan seluas – luasnya kepada klien, bahwa putusan akhir pilihannya terletak ditangan klien.

Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa. Yang paling diutamakan dalam terapi ini adalah hubungan antara terapis dan klien.

Sumber :

Corey, Gerald. (2011). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Aditama

Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta: Kanisius