Persepsi Orang Terhadap Atribut Partai Demokrat

Pemerintahan Negara ini telah hancur, tidak ada lagi yang benar – benar bisa dipercaya. Ya, begitulah sebagian besar persepsi masyarakat kita. Banyak sekali realitas buruk yang membuat persepsi rakyat semakin buruk terhadap pemerintah. Satu persatu elit politik kita terjerat kasus korupsi yang sampai saat ini banyak yang belum ditemukan penyelesaiannya dan belum ada kepastian hukum yang akan diberikan. Beberapa hukuman yang telah diberikan juga terkadang dirasa tidak adil bagi masyarakat. Mereka masih bisa menikmati fasilitas – fasilitas yang disediakan di tempat mereka ditahan. Hal itu yang kerap membuat geram masyarakat. Para koruptor masih dengan bebasnya menggunakan gadget dan lain sebagainya, bahkan ada yang sampai menyalahgunakan tempat itu untuk berbuat maksiat.

Berbicara mengenai koruptor di negeri ini, saya rasa sampai saat ini belum ada ujung cerita panjangnya. Sebut saja kasus kasus besar seperti proyek hambalang dan kasus Bank Century. Kasus tersebut menyeret nama nama besar pejabat pemerintahan negeri kita. Akhir akhir ini bahkan nama kepala negara kita dan anaknya juga turut disebut – sebut. Bayangkan saja, jika memang beliau terbukti korupsi artinya korupsi sudah dilakukan oleh pemimpin Negara. Sungguh memprihatinkan…

Kepala Negara dan mayoritas pemerintah kita dilahirkan oleh partai besar yang identik dengan warna biru. Nasib partai biru kini telah hancur karena sudah kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat. Partai biru ini seharusnya mengemban amanah sebagai kepercayaan masyarakat yang dapat membangun Negara menjadi lebih baik, tetapi partai ini justru melakukan penyimpangan. Seharusnya mereka merealisasikan janjinya saat kampanye “Anti Korupsi”, namun si biru malah menjadi partai yang paling korup di Indonesia hingga menghilangkan kepercayaan masyarakat. Elit politik partai Demokrat sudah banyak sekali yang terjerat kasus korupsi. M Nazaruddin, Andi Malarangeng, Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum adalah beberapa nama yang seringkali kita dengar dan kita lihat di berita. Tidak hanya elit politik yang melakukan korupsi atau penyimpangan politik sehingga menyebabkan buruknya persepsi masyarakat, tetapi masih banyak sekali anggota – anggota partai juga melakukan tindakan buruk itu.

Dewasa ini memang korupsi terlihat menjadi kebudayaan mereka, iklim koruptif di partai sangat kuat sehingga mendorong anggota – anggotanya melakukan tindak seperti itu. Kita melihat bahwa kebutuhan hidup mereka sudah tidak biasa, mereka hidup bergelimang harta. Namun sebenarnya menurut teori hirarki kebutuhan Maslow, apa yang mereka penuhi hanya kebutuhan dasar. Sebenarnya mereka tidak berusaha memenuhi kebutuhan yang lainnya, tetapi mereka masih dalam tahap memenuhi kebutuhan dasar saja walaupun hidupnya bermewah – mewahan karena uang merupakan kebutuhan dasar mereka.

Jika kita melihat dari sisi Angelina Sondakh yang merupakan mantan Puteri Indonesia, saya kira sudah tidak elok lagi jika ia dipandang sebagai Puteri Indonesia. Seharusnya ia memiliki 3 unsur yang sangat penting dalam dirinya sebagai Puteri Indonesia yaitu Beauty, Brain, dan Behavior. Dari kasus korupsi yang menjerat dirinya saat ia berada di Partai Biru, jelas sudah bahwa ia tidak memiliki secara lengkap 3 unsur tersebut. Ia hanya memiliki Beauty and Brain, namun ia tidak memiliki perilaku yang seharusnya baik. Persepsi masyarakat terhadap dirinya tentunya sudah sangat buruk, ia adalah mantan Puteri Indonesia sekaligus perwakilan rakyat yang tidak menjalankan tugasnya dengan benar.

Mereka yang sudah menjadi tersangka saja bisa mengumbar senyum tanpa merasa malu bahkan bersalah atas tindakan merampas uang rakyat. Menurut mereka, menjadi tersangka itu bukan hal yang fatal dan bukan yang memalukan. Mengapa itu bisa terjadi? Menurut teori Skinner, stimulus yang diberikan terus menerus maka akan menyebabkan berkurangnya respon bahkan sampai menghilangkan respon. Dalam kasus ini, stimulus adalah pandangan buruk masyarakat mengenai koruptor sedangkan responnya adalah rasa malu. Karena pandangan buruk masyarakat yang sering dilontarkan kepada mereka sehingga mereka menganggap hal itu menjadi biasa, bukan hal yang menyebabkan rasa malu pada dirinya. Karena itulah, para koruptor tampil di muka umum tanpa ada rasa bersalah, seolah olah tidak terjadi apa – apa.

Pada pemilu 9 April, berbagai media menayangkan kejadian yang janggal pada saat masa kampanye. Beberapa kasus yang sangat mencolok lagi – lagi berasal dari partai Demokrat. Pada masa kampanye, caleg partai besar itu melakukan kampanye di suatu daerah dengan menyajikan pesta rakyat musik dangdut dan membagi – bagikan uang Rp.5.000,00 ke setiap anak kecil yang ada disana. Sungguh ironis! Anak kecil yang belum mengerti benar mengenai apa itu pemilu, apa itu korupsi telah dijadikan korban mereka. Entah apa yang ada di benak caleg tersebut, ia dan tim suksesnya dengan bangga membagi – bagikan uang kepada anak anak tersebut agar menjadi caleg pilihan orang tua mereka. Tujuan dibalik perilaku tersebut adalah menarik kembali simpati masyarakat terhadap partainya, namun  dengan cara itu mereka justru dianggap tidak layak untuk menjadi caleg karena mencontoh hal – hal yang tidak benar. Lagi pula, masyarakat kita tidak bodoh, mereka ambil uang dari caleg itu lalu mereka tidak memilihnya. Nama caleg beserta nama partai menjadi semakin buruk apalagi berita – berita itu tersebar di masyarakat seluruh negeri ini melalui berbagai media yang amat dekat dengan kita dan bisa kita lihat kapanpun kita inginkan.

Dari berbagai kasus yang terkait dengan partai Demokrat, jelas sudah sangat tidak pantas lagi partai itu dijadikan sebagai pilihan rakyat yang dapat diberi amanah, kepercayaan untuk membangun negeri ini. Kasus kasus itu turut membangun persepsi masyarakat bahwa seluruh kader partai Demokrat adalah koruptor. Persepsi masyrakat didukung oleh bukti – bukti yang ditayangkan berbagai media, sehingga persepsi itu menjadi semakin kuat. Kelak, jika mereka menduduki singgahsana pemerintahan lagi, mereka akan berkuasa mengelola uang masyarakat untuk membangun surga mereka sendiri. Oleh sebab itulah, saat pemilu 9 April lalu partai Demokrat mendapat suara yang rendah dibanding partai – partai besar lainnya. Tinggal menunggu waktu, nasib partai koruptor itu akan hancur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: