Terapi Psikoanalisis (Sigmund Freud)

The-interpretation-of-dreams-Sigmund-Freud-quotes

Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama dalam kehidupannya.

Konsep-konsep utama terapi psikoanalisis ;

  1. Struktur kepribadian
    • Id (tidak memiliki kontak yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk memperoleh kepuasan sehingga disebut sebagai prinsip kesenangan)
    • Ego (disebut juga sebagai prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung dengan duni nyata, ego juga memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam kepribadian. Ego menjadi penengah/penyeimbang antara id dan superego)
    • super ego (disebut sebagai prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi oleh super ego akan merasa selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar)
  2. Kesadaran & Ketidaksadaran
    • Konsep ketidaksadaran
      • mimpi yang merupakan pantulan dari kebutuhan, kenginan dan konflik yang terjadi dalam diri
      • salah ucap / lupa
      • sugesti pasca hipnotik
      • materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas
      • materi yang berasal dari teknik proyektif
  1. Kecemasan
    • Adalah suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang akan terjadi/belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego, dan superego. Kecemasan terdiri dari 3 jenis yaitu kecemasan neurosis yaitu cemas akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas akibat konflik antara kebutuhan nyata/realistis dan perintah superego, dan yang ketiga adalah kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan rasa takut misalnya kecemasan akan bahaya.

Tujuan terapi :

  • Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
  • Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan hal yang selama ini tidak disadarinya.
  • Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.

Peran terapis :

  • Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
  • Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
  • Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
  • Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien

Teknik – teknik dalam terapi psikoanalisa :

  1. Asosiasi bebas :

Terapi asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu & pelepasan emosi2 yg berkaitan dg situasi2 traumatik di masa lalu. Pasien secara bebas mengungkapkan segala hal yang ingin dikemukakan, termasuk apa yang selama ini ditekan di alam bawah sadar. Pasien mengungkapkan tanpa dihambat atau dikritik. Namun, ada hal yang menjadi salah satu hambatannya yaitu pasien melakukan mekanisme pertahanan diri saat mengungkapkan hal, sehingga tidak semua hal bisa terungkap. Maka, pasien diminta untuk berbaring di dipan khusus dan psikoanalisnya duduk di belakang. Pasien dan psikoanalis tidak berhadapan langsung, sehingga diharapkan pasien dapat mengungkapkan pikirannya tanpa merasa terganggu, tertahan, atau terhambat oleh terapis.

  1. Penafsiran

Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transferensi. Dengan kata lain teknik ini digunakan untuk menganalisis teknik-teknik yang lainnya. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.

  1. Analisis Mimpi

Adalah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada pasien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud menganggap bahwa mimpi merupakan jalan keluar menuju kesadaran karena pada saat tidur, semua pemikiran yang ditekan di alam bawah sadar bisa muncul ke permukaan. Pada teknik ini difokuskan untuk mimpi-mimpi yang berulang-ulang, menakutkan, dan sudah pada taraf mengganggu.

  1. Analisis Resistensi

Adalah dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Terapis harus bisa menerobos kecemasan yang ada pada pasien sehingga pasien bisa menyadari alasan timbulnya resitensi tersebut. Setelah klien bisa menyadarinya, pasien bisa menanganinya dan bisa mengubah tingkah lakunya.

  1. Analisis Transferensi/Pengalihan

Adalah teknik utama dalam terapi psikoanalis karena dalam teknik ini, masa lalu dihidupkan kembali. Pada teknik ini diharapkan pasien dapat memperoleh pemahaman atas sifatnya sekarang yang merupakan pengaruh dari masa lalunya.

Sumber :

Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/21332/TERAPI+PSIKOANALISIS.doc

http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/61033-10-411390766721.doc

http://www.academia.edu/8475443/Teori_Psikoanalisa_sigmund_freud_Presentation_Transcript

Advertisements

Perbedaan Konseling dan Psikoterapi serta Bentuk Utama Terapi

Perbedaan Konseling dan Psikoterapi

                Menurut sebagian ahli, psikoterapi dan konseling dianggap sebagai suatu sinonim karena memiliki banyak kesamaan contohnya dalam hal tujuannya yaitu untuk membantu orang lain. Tapi, sebagian ahli lainnya menganggap bahwa kedua hal tersebut berbeda, maka perlu terus dilakukan upaya pembedaan agar keprofesiannya jelas dan diketahui masyarakat supaya jelas dan tidak menimbulkan keraguan.

                Ivey & Simek-Downing (1980) berpendapat bahawa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar dalam struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan oleh mereka sebagai suatu proses yang lebih insentif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif. Berdasarkan pengertian dari Ivey dan SImek-Downing dapat disimpulkan bahwa perbedaannya terletak pada waktu. Psikoterapi merubah kepribadian seseorang dengan jangka waktu yang lama, sedangkan konseling hanya membantu seseorang yang normal agar lebih efektif dna mencapai tujuannya.

                Sekarang, mari kita lihat perbedaan antara psikoterapi dan konseling dilihat dari segi tujuan, klien, konselor dan penyelenggara, serta metode yang digunakan.

  • Berdasarkan Tujuan

Menurut Hans dan MacLean (1995) konseling menitikberatkan pada upaya pencegahan agar tidak terjadi penyimpangan. Konseling bertujuan untuk membantu seseorang menghadapi tugas-tugas perkembangan, contohnya remaja yang menghadapi masalah seks. Sedangkan psikoterapi menyembuhkan penyimpangan yang terjadi baru melakukan pencegahan agar penyimpangan itu tidak timbul kembali. Dapat dikatakan bahawa psikoterapi bertujuan untuk menyembuhkan.

Menurut Mowrer (1953) konseling mengatasi orang yang mengalami kecemasan normal. Sedangkan psikoterapi mengatasi orang yang mengalami gangguan kecemasan.

Tyler (1961) berpendapat bahwa konseling berhubungan dengan proses bantuan terhadap klien agar menumbuhkan identitas, sedangkan psikoterapi melakukan perubahan pada struktur dasar perkembangannya.

Stefflre & Grant (1972) mengatakan tujuan konseling terbatas hanya mempengaruhi perkembangan seseorang dengan situasi sesaat sedangkan psikoterapi tidak hanya memperhatikan sekarang, melainkan yg akan datang.

Blocher (1996) merumuskan perbedaan antara keduanya sebagai berikut :

  1. Pada konseling : developmental – educative – preventive.
  2. Pada psikoterapi : remediative – adjustive – therapy.

Dari berbagai pandangan tokoh diatas, saya menyimpulkan bahwa perbedaan psikoterapi dan konseling dilihat dari tujuannya adalah psikoterapi untuk menyembuhkan, merubah seseorang yang telah mengalami masalah untuk jangka waktu yang panjang. Sedangkan konseling bertujuan untuk mencegah seserang mengalami masalah serta membantu seseorang untuk menemukan identitas dirinya yang sebenar-benarnya.

  • Dilihat dari Klien, Konselor dan Penyelenggara

Secara tradisional membedakan konseling dan psikoterapi mudah karena pada konseling, konselor menghadapi klien yang normal, sedangkan psikoterapi, terapis menghadapi klien yang mengalami neurosis atau psikosis. Patterson (1973) dan Pallone (1977) mengatakan konseling diberikan pada klien, sedangkan psikoterapi diberikan pada seorang pasien.

Konselor dan Psikoterapis memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, namun ada kesamaan yang terletak pada subjek tertentu yang harus dilatih dan dipelajari seperti teori dasar kepribadian dengan perkembangan, gangguan, perubahan dan penilaian dan alat penilainya.

Koseling bisa dilakukan di Lembaga Pendidikan seperti sekolah, Perguruan Tinggi, Biro Khusus atau praktik pribadi. Psikoterapi dilakukan dalam kegiatan yang sifatnya klinis di Lembaga Pendidikan dengan pengaturan dan suasana yang khusus. Namun, psikoterapi banyak dilakukan di Rumah Sakit, Lembaga khusus atau praktik pribadi yang berhubungan dengan kesehatan.

  • Dilihat dari Metode

Perbedaan antara konseling dan psikoterapi tidak besar karena berbagai metode bias dipakai keduanya, seperti rapport, menerima dan menghargai hakikat dan martabat pasien, kualitas hubungan dengan pembatasan-pembatasannya. Namun, perbedaan antara keduanya diungkapkan oleh Stefflre & Grant (1972) yaitu konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens, lebih menekankan pada situasi yang riil, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya.

Bentuk Utama Terapi

Psikoterapi menurut Phares (dalam Markam 2007) dapat dibedakan menjadi dua aspek, yaitu menurut taraf kedalamannya dan menurut tujuannya. Menurut kedalamannya dibedakan psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi rek ronstruktif .

Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam bawah sadar klien. Alasan penghindaran karena kalau akan “dibongkar” ketidaksadarannya, klien ini mungkin akan menjadi lebih parah dalam penyesuaian dirinya. Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.

Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Terapis mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang keyakinan kilen, mendidik kembali agar ia dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya membatasi diri membahas kesadaran saja, namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran. Psikoterapi jenis reedukatif ini biasanya yang terjadi dalam konseling.

Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian pasien/klien, dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, member pemahaman akan adanya proses-proses tak sadar dan seterusnya. Psikoterapi jenis ini berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan biasanya berlangsung intensif dalam waktu yang sangat lama.

Sumber :

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Markam, S.L.S., Sumarmo. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Pengertian, Tujuan, dan Unsur-unsur Psikoterapi

Pengertian Psikoterapi

• Watson & Morse (1977) : psikoterapi adalah bentuk khusus dari interaksi antara pasien dan terapis. Pasien memulai interaksi karena mencari bantuan psikologik, terapis menyusun interaksi dengan menggunakan dasar psikologik. Dalam hal ini, terapis membantu pasien dengan cara meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakan.
• Corsini (1989) : psikoterapi merupakan proses formal dari interaksi antar dua pihak. Kedua pihak tersebut dapat terdiri dari satu orang atau lebih tujuannya dalah untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan pada salah satu pihak.

Tujuan dan Unsur – Unsur Psikoterapi

Tujuan psikoterapi dapat dilihat dari beberapa pendekatan :
1. Pendekatan Psikodinamik
Ivey, et al (1987)
Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribdaian dilakuan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama. Maksudnya adalah menyadari masa lalu/kejadian yang sudah ia lalui untuk membangun kembali kepribadiannya. Masa lalu dijadikan sebagai pembelajaran agar mengubah kepribadiannya menjadi lebih baik.

2. Pendekatan Psikoanalisis
Corey (1991)
Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman – pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

3. Pendekatan Rogerian (berpusat pada pribadi)
Ivey, et al (1987)
Untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik. Maksudnya adalah psikoterapi bertujuan untuk memberi jalan kepada seseorang untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki dirinya dan mengekspresikan emosinya agar terungkap kemampuan dirinya yang unik, yang belum pernah diketahui.

Corey (1991)
Untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal – hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek – aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat. Maksudnya adalah psikoterapi dengan pendekatan ini untuk memberi rasa aman, nyaman agar seseorang dapat mengungkap atau mengembangkan kemampuan dirinya yang sebelumnya masih terpendam atau belum terlihat.

4. Pendekatan Behavioristik
Ivey, et al (1987)
Untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola – pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Maksudnya adalah psikoterapi dalam pendekatan ini yaitu dengan mengubah perilaku yang salah yang didapatkan dari proses belajar menjadi perilaku yang benar.

5. Teknik Gestalt
Ivey, et al (1987)
Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Pada teknik ini, psikoterapi bertujuan untuk mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik dengan cara bertanggung jawab secara keseluruhan mengenai kehidupannya.

 

Unsur-Unsur Psikoterapi :

Menurut Masserman (1984) ada tujuh “parameter pengaruh” yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu:

  1. Peran sosial (martabat) psikoterapis
  2. Hubungan (persekutuan terapeutik)
  3. Hak
  4. Retrospreksi
  5. Re-edukasi
  6. Rehabilitasi
  7. Resosialisasi dan rekapitulasi

Unsur-unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.

 

Sumber :

Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

https://books.google.co.id/books?id=mfsgp_zkmWwC&pg=PA521&dq=unsur+unsur+psikoterapi&hl=id&sa=X&ei=VvkKVZbpKo6eugTTy4K4DQ&redir_esc=y#v=onepage&q=unsur%20unsur%20psikoterapi&f=false

Psikologi Manajemen

Komunikasi dan Manajemen

  • Definisi Komunikasi

Komunikasi secara umum berasal dari bahasa Latin communication yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran. Suatu proses komunikasi haruslah terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).

Wilbur Schramm menyatakan komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process). Schrarmm menguraikannya demikian : “Komunikasi berasal dari bahasa Latin communis yang berarti umum (common) atau bersama. Apabila kita berkomunikasi, sebenarnya kita sedang berusaha menumbuhkan suatu kebersamaan (commonness) dengan seseorang, yaitu kita berusaha berbagi informasi, ide atau sikap. Misalnya, saya sedang berusaha berkomunikasi dengan para pembaca untuk menyampaikan ide bahwa hakikat sebuah komunikasi sebenarnya adalah usaha membuat penerima atau pemberi komunikasi memiliki pengertian/pemahaman yang sama terhadap pesan tertentu”.

Dari uraian Schramm tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebuah komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang berhasil melahirkan kebersamaan (commonness), kesepahaman antara sumber (source) dengan penerima (audience-receiver). Sebuah komumnikasi akan efektif apabila audience menerima pesan, pengertian, dan lain-lain sama seperti yang dikehendaki oleh penyampai.

  • Proses Komunikasi

Komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui saluran tertentu. Adapula yang menyebutkan komunikasi sebagai suatu proses penyampaian pesan (berupa lambang, suara, gambar, dan lain-lain) dari suatu sumber kepada sasaran (audiance) dengan menggunakan saluran tertentu. Hal ini dapat digambarkan melalui sebuah percakapan sebagai bentuk awal dari sebuah komunikasi. Orang yang sedang berbicara adalah sumber (source) dari komunikasi atau dengan istilah lain disebut sebagai komunikator. Orang yang sedang mendengarkan sebagai audience, sasaran, pendengar atau komunikan.

Proses komunikasi dapat diartikan sebagai transfer informasi atau pesan dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima sebagai komunikan. Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mencapai saling pengertian antara kedua pihak yag terlibat dalam proses komunikasi.

  • Hambatan Komunikasi

Ada beberapa masalah antara:

  1. Media :
    • Hambatan teknis, misalnya masalah pada teknologi komunikasi (microphone, telepon, power point, dan lain sebagainya).
    • Hambatan geografis, misalnya blank spot pada daerah tertentu sehingga signal HP tidak dapat ditangkap. Hambatan simbol/ bahasa, yaitu perbedaan bahasa yang digunakan pada komunitas tertentu. Misalnya kata-kata “wis mari” versi orang Jawa Tengah diartikan sebagai sudah sembuh dari sakit sedangkan versi orang Jawa Timur diartikan sudah selesai mengerjakan sesuatu.
    • Hambatan budaya, yaitu perbedaan budaya yang mempengaruhi proses komunikasi.
  2. Komunikator :
    • Hambatan biologis, misalnya komunikator
    • Hambatan psikologis, misalnya komunikator yang gugup. Hambatan gender, misalnya perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan bicaranya yang laki-laki.
  3. Komunikate :
    • Hambatan biologis, misalnya komunikate yang tuli.
    • Hambatan psikologis, misalnya komunikate yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan. Hambatan gender, misalnya seorang perempuan akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang lelaki.
  • Definisi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan media. Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok maya atau faktual. Contoh kelompok maya, misalnya komunikasi melalui internet (chatting, facebook, email, etc.). Berkembangnya kelompok maya ini karena perkembangan teknologi media komunikasi. Terdapat definisi lain tentang komunikasi interpersonal, yaitu suatu proses komunikasi yang  bersetting pada objek-objek sosial untuk mengetahui pemaknaan suatu stimulus.

Fungsi Komunikasi interpersonal sebagai berikut:

  1. Untuk mendapatkan respon/umpan balik. Hal ini sebagai salah satu tanda efektivitas proses komunikasi. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada umpan balik, saat Anda berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana kalau Anda sms ke orang lain tetapi tidak dibalas? Untuk melakukan antisipasi setelah mengevaluasi respon/ umpan balik. Contohnya, setelah apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui lawan bicara kita kurang nyaman diajak berbincang.
  2. Untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan sosial, yaitu kita dapat melakukan modifikasi perilaku orang lain dengan cara persuasi. Misalnya, iklan yang arahnya membujuk orang lain.

 

Pelatihan dan Pengembangan

  • Definisi Pelatihan

Pelatihan menurut Sikula adalah proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga kerja nonmanajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu.

Sedangkan pengembangan adalah proses pendidikan jangka pangjang yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis secara umum.

Sebenarnya batas antara pelatihan dan pengembangan tidak jelas. Ada yang menggunakan istilah pelatihan khusus untuk tenaga kerja nonmanajerial, istilah pengembangan hanya untuk tenaga kerja manajerial. Ada yang menggunakan istilah pelatihan untuk proses pembelajaran-pengajaran (teaching-learning process) jika yang harus diajarkan suatu keterampilan khusus. Sebaliknya jika yang diajarkan suatu penngetahuan konseptual suatu keahlian, proses pembelajaran-pengajaran ini disebut pengembangan.

  • Tujuan dan Sasaran Pelatihan & Pengembangan

Menurut Sikula, tujuan dari pelatihan dan pengembangan secara umum sebagai berikut :

  1. Meningkatkan produktivitas

Pelatihan pengembangan diberikan pada tenanga kerja baru dan tenaga kerja lama. Pelatihan dapat meningkatkan taraf prestasi tenaga kerja pada jabatannya sekarang. Prestasi kerja yang meningkat mengakibatkan peningkatan dari produktivitas.

  1. Meningkatkan mutu

Tenaga kerja yang berpengetahuan dan berketerampilan baik hanya akan membuat sedikit kesalahan dan cermat dalam pelaksanaan pekerjaan.

  1. Meningkatkan ketepatan dalam perencanaan sumber daya manusia

Pelatihan dan pengembangan yang tepat dapat membantu perusahaan untuk memenuhi keperluannya akan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu di masa yang akan datang. Jika suatu saat diperlukan, maka lowongan yang ada dapat secara mudah diisi oleh tenaga dari dalam perusahaan sendiri.

  1. Meningkatkan semangat kerja

Iklim dan suasana organisasi pada umumnya menjadi lebih baik jika perusahaan mempunyai program pelatihan yang tepat. Suatu rangkaian reaksi positif dapat dihasilkan dari program pelatihan perusahaan yang direncanakan dengan baik.

  1. Menarik dan menahan tenaga kerja yang baik

Para manajer memandang kemungkinan untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan sebagai bahan dari imbalan jasa dari perusahaan kepada mereka. Mereka berharap perusahaan membayar program pelatihan yang mengakibatkan mereka bertambah pengetahuan dan keterampilan dalam keahlian mereka masing-masing. Karena itu banyak perusahaan yang menawarkan program pelatihan dan pengembangan yang khusus untuk menarik tenaga kerja yang berpotensi baik.

  1. Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja

Pelatihan yang tepat dapat membantu menghindari timbulnya kecelakaan di perusahaan dan dapat menimbulkan lingkungan kerja yang lebih aman dan sikap mental yang lebih stabil.

  1. Menghindari keusangan

Usaha pelatihan dan pengembangan diperlukan secara terus-menerus supaya para tenaga kerja dapat mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang kerja mereka masing-masing.

  1. Menunjang pertumbuhan pribadi

Pelatihan dan pengembangan tidak hanya unutk menguntungkan perusahaan tetapi juga menguntungkan tenaga kerja sendiri.

  • Faktor Psikologi dalam Pelatihan & Pengembangan

Menurut Dole Yoder agar pelatihan dan pengembangan dapat berhasil dengan baik, maka harus diperhatikan delapan faktor sebagai berikut :

  1. Individual Differences

Tiap-tiap individu mempunyai ciri khas, yang berbeda satu sama lain, baik mengenai sifatnya, tingkah lakunya, bentuk badannya maupun dalam pekerjaannya. Oleh karena itu, dalam merencanakan dan melaksanakan suatu pelatihan harus diingat adanya perbedaan individu ini.

  1. Relation to job analysis

Tugas utama dari analisa jabatan untuk memberikan pengertian akan tugas yang harus dilaksanakan didalam suatu pekerjaan, serta untuk mengetahui alat-alat apa yang harus dipergunakan dalam menjalankan tugas itu. Untuk memberikan pelatihan pada para karyawan terlebih dahulu harus diketahui keahlian yang dibutuhkannya. Dengan demikian program dari pelatihan dapat di arahkan atau ditujuakan untuk mencapai keahlian itu.

  1. Motivation

Motivasi dalam pelatihan ini sangat perlu sebab pada dasarnya motif yang mendorong karyawan untuk menjalankan pelatihan tidak berbeda dengan motif yang mendorongnya untuk melakukan tugas pekerjaannya.

  1. Active Participation

Didalam pelaksanaan pendidikan pelatihan para trainess harus turut aktif mengambil bagian di dalam pembicaraan-pembicaraan mengenai pelajaran yang diberikan, sehingga akan menimbulkan kepuasan pada para trainess apabila saran-sarannya diperhatikan dan dipergunakan sebagai bahan-bahan pertimbangan untuk memecahkan kesulitan yang mungkin timbul.

  1. Selection of trainee

Pelatihan sebaiknya diberikan kepada mereka yang berminat dan menunjukkan bakat untuk dapat mengikuti latihan itu dengan berhasil. Dengan demikian apabila latihan diberikan kepada mereka yang tidak mempunyai minat, bakat dan pengalaman, kemungkinan berhasil sedikit sekali. Oleh karena itulah sangat perlu diadakan seleksi.

  1. Selection of trainers

Berhasil atau tidaknya seseorang melakukan tugas sebagai pengajar, tergantung kepada ada tidaknya persamaan kualifikasi orang tersebut dengan kualifikasi yang tercantum dalam analisa jabatan mengajar. Itulah sebabnya seorang trainer yang baik harus mempunyai kecakapan-kecakapan sebagai berikut:

  • Pengetahuan vak yang mendalam dan mempunyai kecakapan vak
  • Mempunyai rasa tanggungjawab dan sadar akan kewajiban
  • Bijaksana dalam segala tindakan dan sabar
  • Dapat berfikir secara logis
  • Mempunyai kepribadian yang menarik
  1. Trainer Pelatihan

Trainer sebelum diserahi tanggung jawab untuk memberikan pelajaran hendaknya telah mendapatkan pendidikan khusus untuk menjadi tenaga pelatih. Dengan demikian salah satu asas yang penting dalam pendidikan ialah agar para pelatih mendapatkan didikan sebagai pelatih.

  1. Training Methods

Metode yang dipergunakan dalam pelatihan harus sesuai dengan jenis pelatihan yang diberikan. Misalnya, pemberian kuliah tidak sesuai untuk para karyawan pelaksana. Untuk karyawan pelaksana hendaknya diberikan lebih banyak peragaan disamping pelajaran teoritis.

 

  • Teknik dan Metode Penelitian

Bentuk pelatihan dapat dibedakan ke dalam pelatihan pada pekerjaan dan pelatihan diluar pekerjaan. Metode-metode pelatihan di kelas dipakai dalam bentuk pelatihan di luar pekerjaan. Metode pelatihan di kelas terdiri atas :

  1. Kuliah

Merupakan suatu ceramah yang disampaikan secara lisan untuk tujuan pendidikan. Kuliah adalah pembicaraan yang diorganisasi secara formal tentang hal-hal khusus. Keuntungan dari kuliah adalah bahwa metode ini dapat dipakai untuk kelompok yang sangat besar sehingga biaya per trainee adalah rendah serta dapat menyajikan banyak bahan pengetahuan dalam waktu yang relative singkat. Kelemahannya adalah para trainee bersikap lebih pasif mendengarkan daripada aktif mencerna. Pada kuliah hanya terjadi komunikasi searah, sehingga tidak ada umpan balik dari trainees. Tidak dapat diketahui sejauh mana trainee mengerti dan menyetujui akan bahan latihan yang diberikan.

  1. Konperensi

Merupakan pertemuan formal dimana terjadi diskusi atau konsultasi tentang sesuatu hal yang penting. Konperensi menekankan adanya diskusi kelompok kecil, bahan yang terorganisasi, keterlibatan peserta secara aktif. Pada metode konperensi belajar diperlancar melalui partisipasi lisan dan interaksi antar anggota. Para trainee dianjurkan untuk memberikan gagasan-gagasan mereka, yang kemudian didiskusikan, dievaluasi dan mungkin diubah oleh gagasan dan pandangan peserta yang lain. Pada konperensi para trainee belajar dari masing-masing dan tidak hanya belajar dari satu pengajar. Jumlah trainee biasanya sekitar 15-20 orang. Metode konperensi para trainee berguna terutama untuk pengembangan dari pengertian dan pembentukan dari sikap-sikap baru.

  1. Studi Kasus

Pada metode studi kasus trainee diminta untuk mengindentifikasi masalah dan merekomendasi jawabannya. Metode ini adalah metode belajar melalui perbuatan dan bermaksud meningkatkan pemikiran analitis dan kecakapan memecahkan masalah. Kekuatan dari metode ini adalah bahwa trainee dilatih dalam hal berpikir analitis kecakapannya memecahkan masalah. Kelemahan utama dari studi kasus ini adalah bahwa dalam keadaan nyata data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah masih harus dikumpulkan/dicari sendiri oleh manajer.

  1. Bermain Peran

Digunakan untuk memberi kesempatan kepada para trainee untuk mempelajari keterampilan hubungan antar manusia melalui praktek dan untuk mengembangkan pemahaman mengenai pengaruh kelakuan mereka sendiri pada orang lain. Kebaikan metode ini adalah memungkinkan belajar melalui perbuatan, menekankan kepekaan manusia dan interaksi manusia, memberitahu secara langsung hasilnya, menimbulkan minat dan keterlibatan yang tinggi, dan menunjang pengalihan pembelajaran.

  1. Bimbingan Berencana atau Intruksi Bertahap

Terdiri atas satu urutan langkah yang berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau suatu kelompok tugas pekerjaan. Metode ini meliputi langkah-langkah yang telah diatur terlebih dahulu tentang prosedur yang berhubungan dengan dapat dikuasainya suatu keterampilan yang khusus atau suatu pengetahuan umum. Metode ini dapat dilaksanakan memakai buku atau mesin pengajaran.

  1. Metode Simulasi

Berusaha menciptakan situasi yang merupakan tiruan dari keadaan nyata. Dalam hubungannya dengan pelatihan, maka suatu simulasi adalah suatu jenis alat atau teknik yang menyalin setepat mungkin kondisi-kondisi nyata. Dalam hubungannya dengan pealtihan, maka suatu simulasi adalah suatu jenis alat atau teknik yang menyalin setepat mungkin kondisi-kondisi nyata yang ditemukan dalam pekerjaan. Contoh dari pelatihan adalah laboratorium antariksa. Pilot diajarkan menerbangkan kapal terbang jenis baru dalam model yang dapat bekerja seolah-olah seperti kapal terbang nyata. Para astronot kemudian di train untuk terbang ke bulan dalam kapsul ruang angkasa tiruan.

Sumber :

http://www.academia.edu/6890068/Komunikasi_Interpersonal_dan_Intrapersonal

Munandar, A.S. (2008). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Suprapto, T. (2009). Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta : Media Pressindo.

Manajemen Organisasi

Pengorganisasian Struktur Manajemen

  • Definisi Pengorganisasian

Definisi menurut Dr. S. P. Siagian MPA pengorganisasian ialah “keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas serta wewenang dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”. Dalam hal ini dapat dibedakan antara :

  1. “Administrative Organizing” : proses pembentukan organisasi sebagai keseluruhan.
  2. “Manajerial Organizing” : pengorganisasian yang bersifat departemental dalam rangka keseluruhan dan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
  •  Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajemen

Hasil pengorganisasian ialah organisasi. Organisasi merupakan alat yang digunakan oleh manusia untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu. Artinya, fungsi pengorganisasian yang menghasilkan organisasi dan tidak boleh dijadikan sebagai tujuan. Dalam kaitan ini penting pula menekankan bahwa ampuh tidaknya organisasi sebagai alat pencapaian tujuan pada analisis terakhir tergantung pada manusia yang menggerakkannya.

Dengan orientasi demikian, organisasi didefinisikan sebagai “setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama dan terikat secara formal yang tercermin pada hubungan sekelompok orang yang disebut pimpinan dan sekelompok orang yang disebut bawahan”.

 Actuating Manajemen

  • Definisi Actuating

Definisi menurut Dr. S. P. Siagian MPA, actuating adalah “segala tindakan untuk menggerakkan orang-orang dalam suatu organisasi, agar dengan kemauan penuh berusaha mencapai tujuan organisasi dengan berlandaskan pada perencanaan dan pengorganisasian yang telah ada”.

 

  • Pentingnya Actuating

Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia pada pelaksanaan tugas. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.

 

  • Prinsip Actuating

Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam actuating antara lain:

  • Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
  • Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
  • Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
  • Menghargai hasil yang baik dan sempurna
  • Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
  • Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
  • Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya

 

 Mengendalikan Fungsi Manajemen

  • Definisi Controlling

Definisi controlling adalah “suatu proses untuk menentukan apa yang harus dikerjakan, apa yang sedang dikerjakan, menilai proses dan hasil pelaksanaan pekerjaan/tugas, melakukan koreksi-koreksi atas kesalahan-kesalahan agar sesuai rencana dan sebagainya”. Pada dasarnya, controlling merupakan tindak lanjut dari tiga fungsi organik manajemen terdahulu (planning, organizing, dan actuating). Tanpa adanya ketiga fungsi tersebut, tidak perlu ada controlling.

  • Kontrol Sebagai Proses Manajemen

Dalam proses pengendalian manajemen yang baik sebaiknya formal, akan tetapi sifat pengendalian informal pun masih banyak digunakan untuk proses manajemen. Pengendalian manajemen formal merupakan tahap-tahap yang saling berkaitan antara satu dengan lain, terdiri dari proses :

  1. Pemrograman (Programming)

Dalam tahap ini perusahaan menentukan program-program yang akan dilaksanakan dan memperkirakansumber daya yang akan alokasikan untuk setiap program yang telah ditentukan.

  1. Penganggaran (Budgeting)

Pada tahap penganggaran ini program direncanakan secara terinci, dinyatakan dalam satu moneteruntuk suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Anggaran ini berdasarkan pada kumpulan anggarananggaran dari pusat pertanggungjawaban.

  1. Operasi dan Akuntansi (Operating and Accounting)

Pada tahap ini dilaksanakan pencatatan mengenai berbagai sumber daya yang digunakan dan penerimaan-penerimaan yang dihasilkan. Catatan dan biaya-biaya tersebut digolongkan sesuai dengan program yang telah ditetapkan dan pusat-pusat tanggungjawabnya. Penggolongan yang sesuai program dipakai sebagai dasar untuk pemrograman di masa yang akan datang, sedangkan penggolongan yang sesuai dengan pusat tanggung jawab digunakan untuk mengukur kinerja para manajer.

  1. Laporan dan Analisis (Reporting and Analysis)

Tahap ini paling penting karena menutup suatu siklus dari proses pengendalian manajemen agar data untuk proses pertanggungjawaban akuntansi dapat dikumpulkan.

  • Tipe – tipe Kontrol

Ada 4 tipe kontrol dalam pengendalian manajemen, yaitu :

  1. Pengendalian dari dalam organisasi (kontrol internal)

Adalah pengendalian yang dilakukan oleh oleh aparat/unit pengendalian yang dibentuk dari dalam organisasi itu sendiri (dalam satu atap). Aparat/unit pengendalian ini bertugas mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan oleh pimpinan untuk melihat dan menilai kemajuan atau kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain itu pimpinan dapat mengambil suatu tindakan korektif terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya (internal control), misalnya unit kerja Inspektorat Jenderal sebagai unit pengawasan di tingkat departemen.

  1. Pengendalian luar organisasi (kontrol eksternal)

Adalah pengendalian yang dilakukan oleh Aparat/Unit Pengendalian dari luar organisasi terhadap departemen (lembaga pemerintah lainnya) atas nama pemerintah. Selain itu pengawasan dapat pula dilakukan oleh pihak luar yang ditunjuk oleh suatu organisasi untuk minta bantuan pemeriksaan/pengendalian terhadap organisasinya. Misalnya Konsultan Pengawas, Akuntan swasta dan sebagainya.

  1. Pengendalian preventif

Adalah pengendalian yang dilakukan sebelum rencana itu dilaksanakan. Maksud pengendalian preventif adalah untuk mencegah terjadinya kekeliruan/kesalahan.

  1. Pengendalian represif

Adalah pengendalian yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan pekerjaan. Maksud dilakukannya pengendalian represif adalah untuk menjamin kelangsungan pelaksanaan pekerjaan agar hasilnya tidak menyimpang dari yang telah direncanakan (dalam pengendalian anggaran disebut post- audit).

Motivasi

  • Definisi Motivasi

Motivasi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti bergerak atau dalam bahasa inggris to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif saling berkaitan dengan faktor eksternal dan faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Jadi, motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Sedangkan menurut Plotnik, motivasi mengacu pada berbagai faktor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu.

  • Teori-teori Motivasi

1. Teori kebutuhan

Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya. Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Abraham Maslow mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan Maslow yaitu :

  1. Kebutuhan fisiologis
  2. Kebutuhan rasa aman
  3. Kebutuhan untuk merasa memiliki
  4. Kebutuhan akan harga diri
  5. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.

Dalam studi motivasi lainnya, David McClelland (1961) mengemukakan adanya tiga macam kebutuhan manusia, yaitu berikut ini :

  • Need for Achievement yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. Kebutuhan untuk berprestasi adalah kebutuhan untuk melakukan pekerjaan lebih baik daripada sebelumnya, selalu berkeinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
  • Need for Affiliation yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
  • Need for Power yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain.

2. Teori ERG (Esixtance, Relatedness, Growth) dari Alderfer

Teori ERG merupakan refleksi dari nama tiga dasar kebutuhan, yaitu :

  • Existance needs. Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari pegawai seperti makan, minum, pakaian, bernafas, gaji, keamanan, kondisi kerja, fringe benefits.
  • Relatedness needs. Kebutuhan interpersonal yaitu kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan kerja.
  • Growth needs. Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi. Hal ini berhubungan dengan kemampuan dan kecakapan pegawai.

3. Teori Insting

Teori motivasi insting berasal dari teori evaluasi Charles Darwin. Darwin berpendapat bahwa tindakan intelligent merupakan refleks dan instingtif yang diwariskan. Oleh karena itu, tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya dan dikontrol oleh pikiran. McDougall menyusun daftar insting yang berhubungan dengan tingkah laku : terbang, rasa jijik, rasa ingin tahu, kesukaan berkelahi, rasa rendah diri, menyatakan diri, kelahiram, reproduksi, lapar, berkelompok, ketamakan, dan membangun.

4. Teori Drive

Woodworth menggunakan drive sebagai energy yang mendorong suatu organisasi untuk melakukan suatu tindakan. Menurut Hull motivasi seorang pegawai sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam dirinya (drive) dan faktor kebiasaan (habit) pengalaman belajar sebelumnya.

5. Teori Lapangan

Teori lapangan merupakan konsep dari Kurt Lewin. Teori ini merupakan pendekatan kognitif untuk mempelajari perilaku dan motivasi. Teori lapangan lebih memfokuskan pada pikiran nyata seorang pegawai ketimbang pada insting atau habit. Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari lapangan pada momen waktu.

  • Definisi Motivasi Kerja

Ernest J. McCormick mengemukakan bahwa “Work motivation is defined as conditions which influence the aurosal, direction, and maintenance of behaviors relevant in work setting” (Motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja).

Kepuasan Kerja

  • Definisi Kepuasan Kerja

Keith Davis mengemukakan bahwa “job satisfication is the favorableness or unfavorableness with employees view their work” (kepuasan kerja adalah perasaan menyokong atau tidak menyokong yang dialami pegawai dalam bekerja). Wexley dan Yuki mendefinisikan kepuasan kerja “is the way an employee feels about his or her job” (adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya).

Berdasarkan pendapat Keith Davis, Wexley dan Yuki maka kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan rekan kerja, struktur organisasi, dsb. Sedangkan yang berhubungan dengan dirinya adalah umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan.

Pegawai akan merasa puas dalam bekerja apabila aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dirinya menyokong. Sebaliknya jika aspek-aspek tersebut tidak menyokong maka pegawai akan merasa tidak puas.

  • Aspek-aspek Kepuasan Kerja

Aspek pertama yaitu aspek pekerjaan yang meliputi gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan rekan kerja, struktur organisasi, mutu pengawasan, penempatan kerja, dan jenis pekerjaan. Aspek yang kedua yaitu aspek diri meliputi umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan.

  • Faktor-faktor Penentu Kepuasan Kerja

Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada pada diri pegawai dan faktor pekerjaannya.

  1. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan IQ, kecakapan khusus, umur, jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian, emosi, cara berpikir, persepsi, dan sikap kerja.
  2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat (golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.

Referensi :

Basuki, Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Gunadarma.

Ernest J. McCormick. (1985). Industrial Psychology. New York : Prentice Hall, Inc.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Muhammad%20Ali,%20ST.,M.T./Materi%201%20Manajemen%20dan%20Organisasi.pdf

Keith Davis. (1985). Human Behavior at Work: Organizational Behavior. New Delhi : tata McGraw-Hill Publishing Company.

Mangkunegara, Anwar Prabu A.A. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Martoyo, Susilo. (1998). Pengetahuan Dasar Manajemen dan Kepemimpinan. Yogyakarta : BPFE.

Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Reksohadiprodjo, Sukanto. (1998). Dasar-dasar Manajemen. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Riyanti, B.P Dwi dan Prabowo, Hendro. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta : Gunadarma.

Siagian, Sondang P. (1996). Fungsi – fungsi Manajerial. Jakarta : Bumi Aksara.

Silalahi, Ubert. (1996). Pemahaman Praktis Asas-asas Manajemen. Bandung : Mandar Maju.

Stoner, J.A.F., Sitrait, A. (1993). Manajemen. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Wexley, K.N. dan Yukl, G.A. (1997). Organizational Behavior and Personel Psychology. Richard D. Irwin.

Kasus Mengenai Motivasi dan Kepuasan Kerja

TEMPO.COJakarta – Kasus Luviana, Asisten Produser Metro TV, yang dipecat secara sepihak oleh perusahaan setelah mengkritik mekanisme pembagian bonus prestasi di kantornya memasuki babak baru. Luviana melaporkan Direktur Utama Metro TV Adrianto Machribie ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penggelapan gaji, Selasa 6 November 2012.

Menurut Luviana, gajinya sudah tidak dibayar sejak 27 Juni 2012 akibat perselisihan tersebut. Dia menyesalkan penghentian gaji ini. “Belum ada ada putusan berkekuatan hukum tetap. Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja, gaji enggak boleh ditahan,” kata dia di kantor Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro Jaya, Selasa 6 November 2012.

Dalam laporan bernomor LP/3833/XI/2012/PMJ/Dit Reskrimsus, Adrianto disebut melanggar Pasal 93 junto Pasal 186 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ancaman pidananya minimal satu tahun, maksimal 4 tahun.

Kuasa hukum Luviana dari LBH Pers, Sholeh Ali, mengatakan, seharusnya gaji Luvi masih dibayarkan oleh Metro TV. Berdasar UU Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, kasus Luviana dengan Metro TV harus dibawa dulu ke Pengadilan Hubungan Industrial. Setelah ada keputusan dari PHI, baru eksekusi dilakukan, termasuk soal gaji.

Masalahnya, kata dia, kasus Luviana dengan Metro TV kini belum diputuskan secara hukum. Bahkan, belum diajukan ke PHI. “Perusahaan seharusnya masih tetap menjalankan kewajiban membayar upahnya sebelum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap,” ujarnya.

Sholeh menyebutkan harusnya Metro TV , sebagai pihak yang ingin memutus hubungan kerjalah, yang membawa kasus ini ke PHI. “Kepentingan dia lebih besar,” ujarnya.

Luviana belum berniat menuntut Metro TV ke PHI. Dia ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Bahkan, dia masih menyimpan asa untuk kembali bekerja di Metro TV. “Aku mau bekerja kembali,” kata Luviana, yang sudah bekerja selama 10 tahun di perusahaan televisi milik Surya Paloh itu.

Sebelumnya, Luviana di-nonjob-kan sejak Februari 2012. Dia dianggap melakukan kesalahan berat, di antaranya, dituduh memprovokasi pekerja lain hingga ingin membentuk serikat pekerja.

Setelah pertemuan tripartit antara Dinas Tenaga Kerja, Metro TV, dan Luviana, Dinas Tenaga Kerja justru merekomendasikan kepada Metro TV untuk memecat Luviana. Dia dinilai bersalah karena berusaha mereformasi manajemen, mengajak pekerja lain pertanyakan kesejahteraan alias menghasut, dan mencemarkan nama baik Metro TV karena menceritakan kasusnya di Hari Perempuan Internasional 8 Maret lalu.

107911_620

Analisis Kasus :

Dari kasus Luviana, saya menyimpulkan bahwa saat bekerja ia memiliki motivasi yang didasarkan pada need for power yang dikemukakan oleh David McClelland yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain. Luviana merasa tidak puas dengan manajemen organisasi di perusahaannya. Ketidakpuasan dirinya terhadap pekerjaannya ia tunjukkan dengan cara menceritakan kasusnya kepada rekan-rekan kerjanya agar rekan kerjanya memiliki persepsi yang sama dengan dirinya sehingga ingin terbentuk serikat pekerja. Oleh karena itu, perusahaan menganggap bahwa ini sebuah pelanggaran. Berdasarkan sikapnya tersebut, dapat terlihat bahwa Luviana merasakan ketidakpuasan kerja yang disebabkan oleh sikap kerja, struktur organisasi dan jaminan financial. Terlebih lagi, ia tidak mendapatkan gaji dan di non-job-kan oleh perusahaan.

Sumber :

http://www.tempo.co/read/news/2012/11/06/064440131/Tak-Bayar-Gaji-Dirut-Metro-TV-Dilaporkan-ke-Polda

Psikologi Manajemen

puzzle

I. MANAJEMEN

Pengertian Manajemen

Kata manajemen berasal dari bahasa perancis kuno “mé nagement ”, yang berarti “seni melaksanakan dan mengatur ”. Istilah manajemen juga berasal dari kata “management” (Bahasa Inggris) yang berasal dari kata “to manage” yang artinya mengurus atau tata laksana.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Manajemen adalah orang yg mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran atau orang yg berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu.

Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen, diantaranya:

  1. Harold Koontz

Dalam bukunya yang berjudul“The Management Theory Jungle” menganggap  pengertian manajemen adalah seni menyelesaikan suatu pekerjaan melalui dan dengan  beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal yang terorganisir. Harold Koontz & O’Dannel dalam buku yang berjudul“Principles of Management” mengemukan, “Manajemen adalah berhubungan dengan percapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”.

  1. George R. Terry

Dalam buku yang berjudul“Principles of Management” memberikan definisi:“Manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan,  pengorganisasian, penggerakkan, pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan  baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”. Manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain (1994).

  1. Mary Parker Follet

Berpendapat bahwa manajemen adalah seni dalam menyelesaikan  pekerjaan melalui orang lain.

  1. James A.F. Stoner

Berpendapat manajemen dapat diartikan sebagai proses perencanaan,  pengorganisasian, kepimpinan, dan pengawasan upaya (usaha-usaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

  1. H.B. Siswanto

Berpendapat bahwa manajemen adalah seni dan ilmu dalam perencanaan,  pengorganisasian, pemotivasian, dan pengendalian terhadap orang dan mekanisme kerja untuk mencapai tujuan.

  1. Ricky W. Griffin

Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan  pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien  berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan  jadwal.

  1. Drs. Oey Liang Lee

Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

  1. William H. Newman

Manajemen adalah fungsi yang berhubungan dengan memperoleh hasil tertentu melalui orang lain.

  1. Renville Siagian

Manajemen adalah suatu bidang usaha yang bergarak dalam bidang jasa pelayanan dan dikelola oleh para tenaga ahli terlatih serta berpengalaman.

10. Prof. Eiji Ogawa

Manajemen adalah Perencanaan, Pengimplementasian dan Pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk system pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.

Jenis – Jenis Manajemen

Berdasarkan Hirarki :

  • Manajemen puncak : Bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan (Direktur – direktur, CEO).
  • Manajemen menengah : Melaksanakan tujuan, strategi dan kebijakan yang telah dilakukan manajemen puncak, mengkoordinasikan dan mengarahkan aktivitas tingkat bawah dan karyawan (Manajer pemasaran, manajer produksi, dll).
  • Manajemen tingkat bawah : Mengawasi karyawan secara langsung (Supervisor, pengawas, dll).

Berdasarkan Fungsi :

  • Manajer umum : Mengawasi unit tertentu yang mempunyai beberapa tanggung jawab sekaligus (Manager divisi).
  • Manajer Fungsional : Bertanggung jawab terhadap suatu aktivitas (Manajer pemasaran, manajer keuangan, dll).

Pengertian Psikologi Manajemen

Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.

Kaitannya dengan psikologi yaitu dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun.

Tujuan Psikologi Manajemen

Ilmu psikologi memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.

Dengan adanya psikologi manajemen, kinerja SDM akan terkontrol dengan baik dan tingkat produktivitas meningkat.

 

Sumber :

http://www.academia.edu/5415980/Pengertian_Manajemen_Management_dan_Manajer_Manager_

http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28361/Psikologi+Manajemen+Rini.ppt

II. PERENCANAAN

Pengertian Perencanaan

Perencanaan sebagai awal kita melakukan proses manajemen sebelum kita melakukan pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan.

Pengertian perencanaan menurut para ahli :

  1. Garth N.Jone

Perencanaan adalah suatu proses pemilihan dan pengembangan dari pada tindakan yang paling baik untuk pencapaian tugas.

  1. M.Farland

Perencanan adalah suatu fungsi dimana pimpinan kemungkinanmengunakan sebagian pengaruhnya untuk mengubah daripada wewenangnya.

  1. Abdulrachman (1973)

Perencanaan adalah pemikiran rasional berdasarkan fakta-faktadan atau perkiraan yang mendekat (estimate) sebagai persiapan untuk melaksanakantindakan-tindakan kemudian.

  1. Siagian (1994)

Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penetuan secaramatang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian yang telah ditentukan.

  1. Terry (1975)

Perencanaan adalah pemilihan dan menghubungkan fakta-fakta, membuatserta menggunakan asumsi-asumsi yang berkaitan dengan masa datang denganmenggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan tertentu yang diyakini diperlukanuntuk mencapai suatu hasil tertentu.

  1. Kusmiadi (1995)

Perencanaan adalah proses dasar yang kita gunakan untuk memilihtujuan-tujuan dan menguraikan bagaimana cara pencapainnya.

  1. Soekartawi (2000)

Perencanaan adalah pemilihan alternatif atau pengalokasian berbagai sumber daya yang tersedia.

Manfaat Perencanaan

Menjelaskan secara tepat tujuan-tujuan serta cara-cara mencapai tujuan. Sebagai pedoman bagi semua orang yang terlibat dalam organisasi pada pelaksanaan rencana yang telah disusun. Merupakan alat pengawasan terhadap pelaksanaan program. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan segala sumber daya yang dimiliki organisasi. Memberikan batas-batas wewenang dan tanggung jawab setiap pelaksanaan, sehingga dapat meningkatkan kerja sama/koordinasi. Menetapkan tolok ukur (kriteria) kemajuan pelaksanaan program setiap saat.

 

Jenis Perencanaan Dalam Organisasi

Berdasarkan tujuan organisasi, perencanaan dikelompokkan  dalam 3 jenis perencanaan :

  1. Perencanaan Strategis

Dari misi organisasi diturunkan tujuan strategis. Rencana strategis ditujukan untuk mencapai tujuan strategis. Biasanya rencana strategis ditetapkan oleh manajemen puncak.

  1. Perencanaan Taktis

Rencana taktis diturunkan dari misi dan rencana strategis. Rencana taktis ditujukan untuk mencapai tujuan taktis yang merupakan bagian tertentu dari rencana strategis. Fokus pada hubungan manusia dan aksi, dan biasanya ditetapkan oleh menajemen menengah.

  1. Perencanaan Operasional

Tujuan operasinal diturunkan dari tujuan dan rencana taktis. Rencana operasional lebih sempit dengan jangka waktu yang lebih pendek dan banyak melibatkan  manajemen tingkat bawah.

  • Rencana Tunggal (sekali pakai)

Untuk aktivitas tidak berulang, contoh: program, proyek, dan anggaran.

  • Rencana Standing

Untuk aktivitas yang berulang, contoh: kebijakan, prosedur standar, dan aturan.

Sumber :

http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=56401

III. KEPEMIMPINAN

Pengertian Kepemimpinan

Berikut ini beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli mengenai definisi kepemimpinan :

  1. George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17)

Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

  1. Ordway Tead (1929)

Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.

  1. Rauch & Behling (1984)

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.

  1. Katz & Kahn (1978)

Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.

  1. Hemhill & Coon (1995)

Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).

  1. William G.Scott (1962)

Kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

  1. Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977)

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.

  1. Dr. Thomas Gordon “ Group Centered Leadership”. A way of releasing creative power of groups.

Kepemimpinan dapat dikonsepsualisasikan sebagai suatu interaksi antara seseorang dengan suatu kelompok, tepatnya antara seorang dengan anggota-anggota kelompok setiap peserta didalam interaksi memainkan peranan dan dengan cara-cara tertentu peranan itu harus dipilah-pilahkan dari suatu dengan yang lain. Dasar pemilihan merupakan soal pengaruh, pemimpin mempengaruhi dan orang lain dipengaruhi.

  1. Tannenbaum, Weschler,& Massarik (1961)

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.

10. P. Pigors (1935)

Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama.

11. Kartini Kartono (1994 : 48)

Kepemimpinan itu sifatnya spesifik, khas, diperlukan bagi satu situasi khusus. Sebab dalam suatu kelompok yang melakukan aktivitas¬aktivitas tertentu, dan mempunyai suatu tujuan serta peralatan¬peralatan yang khusus. Pemimpin kelompok dengan ciri-ciri karakteristik itu merupakan fungsi dari situasi khusus.

12. G. U. Cleeton dan C.W Mason (1934)

Kepemimpinan menunjukan kemampuan mempengaruhi orang-orang dan mencapai hasil melalui himbauan emosional dan ini lebih baik dibandingkan dengan penggunaan kekuasaan.

13. Locke & Associates (1997)

Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses membujuk (inducing) orang-orang lain untuk mengambil langkah menuju sasaran bersama .

14. John W. Gardner (1990)

Kepimpinan sebagai proses Pemujukan di mana individu-individu meransang kumpulannya meneruskan objektif yang ditetapkan oleh pemimpin dan dikongsi bersama oleh pemimpin dan pengikutnya.

15. Theo Haiman & William G.Scott (1974)

Kepemimpinan adalah proses orang-orang diarahkan ,dipimpin, dan dipengaruhi dalam pemilihan dan pencapaian tujuan.

Kepemimpinan adalah suatu sikap pada diri indiviu Kepemimpinan merupakan sebuah sikap yang ada pada diri individu untuk mengatur serta mengorganisasikan beberapa orang untuk menjalankan suatu organisasi atau lembaga untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

Pada hakikatnya, kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi, memberi inspirasi,dan mengarahkan tindakan seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pemimpin adalah seseorang yang mampu untuk mengatur serta mengorganisasikan orang lain. Jiwa kepemimpinan ini pada dasarnya merupakan bawaan dari lahir akan tetapi jiwa kepemimpinan tersebut juga dapat dikembangkan ataupun ditumbuhkan dalam diri seseorang yang notabene tidak memiliki jiwa kepemimpinan.

 

Teori Kepemimpinan

8 Mahzab Teori Leadership :

  1. “Great Man” Theory (Thomas Carlyle, Herbert Spencer) : Kepemimpinan adalah kemampuan yang melekat pada pemimpin besar, ia dilahirkan sebagai pemimpin bukan dibentuk. Pemimpin besar muncul sebagai heroic, mitos, dan ditakdirkan karena diperlukan. Disebut “great man” karena pada saat itu pemimpin laki-laki dianggap memiliki kualitas yang baik.
  2. Trait Theory (Gordon Allport, Hans Eynsenck) : Pemimpin terbentuk karena warisan karakteristik perilaku tertentu yang dimiliki seseorang.
  3. Contingency Theory (Joan Woodward, Fiedler, FE) : Kepemimpinan dipengaruhi oleh variable – variable lingkungan yang menentukan gaya kepemimpinan. Tidak ada gaya kepemimpinan terbaik untuk semua situasi. Keberhasilan pemimpin tergantung pada sejumlah variable, termasuk gaya kepemimpinan, kualitas para pengikut, dan aspek lingkungan.
  4. Situational Theory (Hersey and Blanchard) : Pemimpin harus memilih tindakan yang terbaik berdasarkan situasi yang sedang dihadapi. Gaya kepemimpinan berbeda – beda tergantung situasi yang berlainan. Misalnya di tengah cendikiawan, gaya kepemimpinan demokratis mungkin paling tepat diterapkan.
  5. Behavioral Theory (Skinner, Bandura) : Sesuai prinsip behaviorism, seorang pemimpin besar dapat dibentuk, tidak selalu karena dilahirkan atau dimitoskan. Kepemimpinan tergantung pada tindakan, bukan pad kualitas mental atau kondisi internal. Setiap orang dapat memiliki jiwa kepemimpinan melalui cara pembelajaran, observasi dank arena pengalaman.
  6. Participative Theory (Robert House) : Gaya kepemimpinan yang ideal adalah mendorong partisipasi & kontribusi anggota kelompok. Anggota kelompok merasa lebih memiliki dan berkomitmen pada proses pengambilan keputusan dan pencapaian tujuan organisasi. Untuk memotivasi partisipasi, pemimpin harus terbuka pada masukan anggota kelompok.
  7. Transactional Theory (Max Weber, Bernard Bass) : Teori ini berfokus pada peran pengawasan kinerja organisasi dan kelompok karyawan. Teori ini mendasarkan pada sistem reward and punishment, karyawan dihargai apabila sukses dan ditegur atau dihukum apabila melanggar aturan yang disepakati.
  8. Transformastional Theory (James Macgregor Burns, Bernard Bass) : Teori transformational atau teori relationship berfokus pada pola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Pemimpin memotivasi dan menginspirasi orang agar melihat kepentingan tugas. Pemimpin memperhatikan potensi orang dan memiliki standar etika dan moralitas yang tinggi.

Sumber :

http://www.slideshare.net/Mazawang/teori-teori-kepemimpinan-28358527

http://www.ut.ac.id/html/suplemen/adpu4334/w2_3_1_1.htm

http://www.academia.edu/4802030/Teori_dasar_Kepemimpinan

http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/definisi-kepemimpinan.html

http://blog.ub.ac.id/ragilheriniwilujeng/2013/03/08/materi-kuliah-kepemimpinan/

file.upi.edu/…/FIP/…/Bahan_Ajar_Kepemimpinan_Pendidikan.pdf

 

Buruh Tuntut Pemilik Perusahaan Dipidana

Sedikitnya 100 buruh dari dua perusahaan, UD Shanty Dewi dan Pabrik Rokok Adi Bungsu di Kota Malang, Jawa Timur, berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Rabu (16/3/2011). Selain menuntut pembayaran  hak-hak normatif oleh perusahaan, meraka menuntut pemilik perusahaan dipidana karena belum memenuhi upah minimal kota (UMK).

“Kami menuntut kejelasan status kami setelah selama tiga bulan kami diliburkan. Kalau dipecat, maka harus ada uang pesangon. Kami juga ingin gaji kami yang selama ini belum dipenuhi dibayar sesuai UMK,” ujar Wawan, pekerja bagian operator mesin bordir di UD Shanty Dewi.

“Kami menuntut proses pemidanaan terkait UMK yang sudah masuk ke polisi dipercepat. Ini agar menjadi contoh bagi perusahaan lain supaya tidak melanggar aturan yang seharusnya ditaati,” kata Wawan.

Buruh UD Shanty Dewi berjumlah 10 orang sejak November 2010 berunjuk rasa menuntut pembayaran gaji sesuai UMK 2011. Berdasar Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 69 Tahun 2009, UMK Kota Malang tahun 2010 sebesar Rp 1.006.263 per bulan. Sementara upah buruh UD Shanty Dewi tersebut diakui hanya Rp 500.000 per bulan.

Adapun sekitar 90 buruh PR Adi Bungsu menuntut hak-hak mereka setelah dipecat akhir tahun lalu. Mereka dipecat setelah menuntut uang THR sejak September 2010.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Malang Djalil mengemukakan, konflik perburuhan di dua perusahaan tersebut sudah ditangani polisi sejak dua bulan lalu. “Maka proses selanjutnya yang tahu adalah kepolisian,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengawasan dan Ketenagakerjaan dan Sosial Kota Malang Eko Dyah Fillyantari pernah mengatakan, selama ini memang ada beberapa perusahaan di Kota Malang belum menerapkan upah pekerjanya sesuai UMK.

“Biasanya, dalam pengawasan tahunan, kalau ketahuan belum membayar pekerjanya sesuai UMK, akan kami beri nota peringatan sebanyak tiga kali. Kalau tidak terjadi perbaikan, perusahaan itu bisa dikenai sanksi pidana,” tutur Eko.

Namun demikian, menurut Eko biasanya setelah diperingati, konflik buruh dan perusahaan itu terselesaikan.

Sumber :

http://beritaburuhindonesia.wordpress.com/

http://regional.kompas.com/read/2011/03/16/17443522/Buruh.Tuntut.Pemilik.Perusahaan.Dipidana

Persepsi Orang Terhadap Atribut Partai Demokrat

Pemerintahan Negara ini telah hancur, tidak ada lagi yang benar – benar bisa dipercaya. Ya, begitulah sebagian besar persepsi masyarakat kita. Banyak sekali realitas buruk yang membuat persepsi rakyat semakin buruk terhadap pemerintah. Satu persatu elit politik kita terjerat kasus korupsi yang sampai saat ini banyak yang belum ditemukan penyelesaiannya dan belum ada kepastian hukum yang akan diberikan. Beberapa hukuman yang telah diberikan juga terkadang dirasa tidak adil bagi masyarakat. Mereka masih bisa menikmati fasilitas – fasilitas yang disediakan di tempat mereka ditahan. Hal itu yang kerap membuat geram masyarakat. Para koruptor masih dengan bebasnya menggunakan gadget dan lain sebagainya, bahkan ada yang sampai menyalahgunakan tempat itu untuk berbuat maksiat.

Berbicara mengenai koruptor di negeri ini, saya rasa sampai saat ini belum ada ujung cerita panjangnya. Sebut saja kasus kasus besar seperti proyek hambalang dan kasus Bank Century. Kasus tersebut menyeret nama nama besar pejabat pemerintahan negeri kita. Akhir akhir ini bahkan nama kepala negara kita dan anaknya juga turut disebut – sebut. Bayangkan saja, jika memang beliau terbukti korupsi artinya korupsi sudah dilakukan oleh pemimpin Negara. Sungguh memprihatinkan…

Kepala Negara dan mayoritas pemerintah kita dilahirkan oleh partai besar yang identik dengan warna biru. Nasib partai biru kini telah hancur karena sudah kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat. Partai biru ini seharusnya mengemban amanah sebagai kepercayaan masyarakat yang dapat membangun Negara menjadi lebih baik, tetapi partai ini justru melakukan penyimpangan. Seharusnya mereka merealisasikan janjinya saat kampanye “Anti Korupsi”, namun si biru malah menjadi partai yang paling korup di Indonesia hingga menghilangkan kepercayaan masyarakat. Elit politik partai Demokrat sudah banyak sekali yang terjerat kasus korupsi. M Nazaruddin, Andi Malarangeng, Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum adalah beberapa nama yang seringkali kita dengar dan kita lihat di berita. Tidak hanya elit politik yang melakukan korupsi atau penyimpangan politik sehingga menyebabkan buruknya persepsi masyarakat, tetapi masih banyak sekali anggota – anggota partai juga melakukan tindakan buruk itu.

Dewasa ini memang korupsi terlihat menjadi kebudayaan mereka, iklim koruptif di partai sangat kuat sehingga mendorong anggota – anggotanya melakukan tindak seperti itu. Kita melihat bahwa kebutuhan hidup mereka sudah tidak biasa, mereka hidup bergelimang harta. Namun sebenarnya menurut teori hirarki kebutuhan Maslow, apa yang mereka penuhi hanya kebutuhan dasar. Sebenarnya mereka tidak berusaha memenuhi kebutuhan yang lainnya, tetapi mereka masih dalam tahap memenuhi kebutuhan dasar saja walaupun hidupnya bermewah – mewahan karena uang merupakan kebutuhan dasar mereka.

Jika kita melihat dari sisi Angelina Sondakh yang merupakan mantan Puteri Indonesia, saya kira sudah tidak elok lagi jika ia dipandang sebagai Puteri Indonesia. Seharusnya ia memiliki 3 unsur yang sangat penting dalam dirinya sebagai Puteri Indonesia yaitu Beauty, Brain, dan Behavior. Dari kasus korupsi yang menjerat dirinya saat ia berada di Partai Biru, jelas sudah bahwa ia tidak memiliki secara lengkap 3 unsur tersebut. Ia hanya memiliki Beauty and Brain, namun ia tidak memiliki perilaku yang seharusnya baik. Persepsi masyarakat terhadap dirinya tentunya sudah sangat buruk, ia adalah mantan Puteri Indonesia sekaligus perwakilan rakyat yang tidak menjalankan tugasnya dengan benar.

Mereka yang sudah menjadi tersangka saja bisa mengumbar senyum tanpa merasa malu bahkan bersalah atas tindakan merampas uang rakyat. Menurut mereka, menjadi tersangka itu bukan hal yang fatal dan bukan yang memalukan. Mengapa itu bisa terjadi? Menurut teori Skinner, stimulus yang diberikan terus menerus maka akan menyebabkan berkurangnya respon bahkan sampai menghilangkan respon. Dalam kasus ini, stimulus adalah pandangan buruk masyarakat mengenai koruptor sedangkan responnya adalah rasa malu. Karena pandangan buruk masyarakat yang sering dilontarkan kepada mereka sehingga mereka menganggap hal itu menjadi biasa, bukan hal yang menyebabkan rasa malu pada dirinya. Karena itulah, para koruptor tampil di muka umum tanpa ada rasa bersalah, seolah olah tidak terjadi apa – apa.

Pada pemilu 9 April, berbagai media menayangkan kejadian yang janggal pada saat masa kampanye. Beberapa kasus yang sangat mencolok lagi – lagi berasal dari partai Demokrat. Pada masa kampanye, caleg partai besar itu melakukan kampanye di suatu daerah dengan menyajikan pesta rakyat musik dangdut dan membagi – bagikan uang Rp.5.000,00 ke setiap anak kecil yang ada disana. Sungguh ironis! Anak kecil yang belum mengerti benar mengenai apa itu pemilu, apa itu korupsi telah dijadikan korban mereka. Entah apa yang ada di benak caleg tersebut, ia dan tim suksesnya dengan bangga membagi – bagikan uang kepada anak anak tersebut agar menjadi caleg pilihan orang tua mereka. Tujuan dibalik perilaku tersebut adalah menarik kembali simpati masyarakat terhadap partainya, namun  dengan cara itu mereka justru dianggap tidak layak untuk menjadi caleg karena mencontoh hal – hal yang tidak benar. Lagi pula, masyarakat kita tidak bodoh, mereka ambil uang dari caleg itu lalu mereka tidak memilihnya. Nama caleg beserta nama partai menjadi semakin buruk apalagi berita – berita itu tersebar di masyarakat seluruh negeri ini melalui berbagai media yang amat dekat dengan kita dan bisa kita lihat kapanpun kita inginkan.

Dari berbagai kasus yang terkait dengan partai Demokrat, jelas sudah sangat tidak pantas lagi partai itu dijadikan sebagai pilihan rakyat yang dapat diberi amanah, kepercayaan untuk membangun negeri ini. Kasus kasus itu turut membangun persepsi masyarakat bahwa seluruh kader partai Demokrat adalah koruptor. Persepsi masyrakat didukung oleh bukti – bukti yang ditayangkan berbagai media, sehingga persepsi itu menjadi semakin kuat. Kelak, jika mereka menduduki singgahsana pemerintahan lagi, mereka akan berkuasa mengelola uang masyarakat untuk membangun surga mereka sendiri. Oleh sebab itulah, saat pemilu 9 April lalu partai Demokrat mendapat suara yang rendah dibanding partai – partai besar lainnya. Tinggal menunggu waktu, nasib partai koruptor itu akan hancur.